Berita  

Polres Lobar Amankan Tradisi Ziarah Makam Milam Pasca-Lebaran

Polres Lobar Amankan Tradisi Ziarah Makam Milam Pasca-Lebaran
Polres Lobar Amankan Tradisi Ziarah Makam Milam Pasca-Lebaran

Lombok Barat, NTB – Tradisi ziarah kubur pasca-Lebaran menjadi momen sakral bagi masyarakat di Pulau Lombok, tak terkecuali bagi warga Kelurahan Sekarbela, Kota Mataram. Setiap tahunnya, sehari setelah perayaan Hari Raya Idulfitri, ribuan peziarah memadati Makam Milam yang berlokasi di Dusun Kuranji Dalang, Desa Kuranji Dalang, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat. Fenomena tahunan ini mendapatkan perhatian serius dari jajaran kepolisian guna memastikan kegiatan adat tersebut berjalan dengan khidmat tanpa mengabaikan aspek keamanan dan ketertiban lalu lintas.

Sebagai bentuk pelayanan prima kepada masyarakat, Kepolisian Resor (Polres) Lombok Barat melakukan monitoring serta pengamanan berlapis di titik-titik rawan keramaian. Langkah ini diambil untuk memberikan rasa aman bagi para peziarah sekaligus mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas menuju objek wisata pantai yang berada di sekitar area pemakaman tersebut.

Sinergi Pengamanan di Kawasan Wisata dan Religi Kuranji Dalang

Pengamanan yang dilakukan pada Minggu, 22 Maret 2026, dimulai sejak pagi hari pukul 09.00 WITA. Personel kepolisian yang telah diterjunkan berdasarkan surat perintah tugas (Sprin) segera menempati pos-pos strategis. Fokus pengamanan tidak hanya tertuju pada area pemakaman, tetapi juga mencakup jalur akses masuk menuju objek wisata Pantai Kuranji yang mengalami lonjakan pengunjung pada periode libur Lebaran.

Kapolres Lombok Barat, Polda NTB, AKBP Yasmara Harahap, S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Labuapi, Iptu I Nyoman Rudi Santosa, menjelaskan bahwa strategi pengamanan kali ini melibatkan penyekatan dan pengaturan parkir yang sistematis. Hal ini dilakukan mengingat lokasi Makam Milam berdekatan dengan destinasi wisata populer, sehingga potensi kemacetan akibat pertemuan arus kendaraan sangat tinggi.

“Kami telah menempatkan personel di tiga titik krusial untuk memastikan kelancaran arus, yakni di Simpang Tiga pintu masuk Pantai Kuranji, area parkir depan Sanggar Seni Budaya Pantai Kuranji, dan tentu saja di inti lokasi yaitu Makam Milam Desa Kuranji Dalang. Penempatan ini krusial agar aktivitas ziarah dan rekreasi masyarakat tidak saling berbenturan,” ujar Iptu I Nyoman Rudi Santosa dalam keterangan resminya di lapangan.

Tradisi Turun-Temurun Empat Lingkungan Sekarbela

Kegiatan ziarah ke Makam Milam bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan kewajiban moral dan tradisi turun-temurun yang dijaga erat oleh masyarakat Sekarbela. Berdasarkan pantauan di lokasi, peziarah didominasi oleh warga dari empat lingkungan utama, yaitu Lingkungan Pande Mas Mutiara, Pande Mas Barat, Pande Mas Timur, dan Pande Besi.

Bagi warga setempat, melaksanakan ziarah sehari setelah Lebaran dipercaya sebagai bentuk syukur dan permohonan doa agar diberikan kelancaran rezeki di masa mendatang. Tradisi ini telah berakar kuat secara lintas generasi, menjadikannya sebuah ritual komunal yang melibatkan seluruh elemen keluarga, mulai dari orang tua hingga anak-anak. Kepolisian memahami nilai historis dan religius ini, sehingga pendekatan yang dilakukan dalam pengamanan tetap mengedepankan sisi humanis namun tetap tegas dalam pengaturan massa.

Penerapan Sistem Shift Guna Hindari Penumpukan Massa

Mengingat jumlah peziarah yang mencapai ribuan orang dalam waktu yang bersamaan, Polsek Labuapi memberlakukan mekanisme khusus di area makam. Petugas menerapkan sistem shift atau giliran bagi kelompok masyarakat yang ingin masuk ke dalam area Makam Milam. Strategi ini terbukti efektif dalam mencegah penumpukan massa di satu titik yang dapat memicu ketidaknyamanan bagi para peziarah.

Iptu I Nyoman Rudi Santosa menambahkan bahwa pengaturan ini juga bertujuan agar sirkulasi kendaraan di luar area makam tetap bergerak. “Dalam giat pengamanan ziarah ini, personel yang bertugas memberlakukan sistem shift ketika masyarakat berziarah. Tujuannya jelas, agar tidak menimbulkan kemacetan yang mengunci lokasi kegiatan. Dengan begitu, khidmatnya doa tetap terjaga dan kelancaran arus tetap terjamin,” tegas Kapolsek Labuapi.

Setelah menyelesaikan prosesi ziarah dan doa bersama, masyarakat biasanya tidak langsung pulang. Sebagian besar warga memanfaatkan momen tersebut untuk berekreasi di objek wisata Pantai Kuranji Bangsal maupun Pantai Kuranji Dalang. Pergeseran massa dari area makam ke bibir pantai inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan agar situasi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) tetap kondusif.

Kondusivitas Hingga Akhir Kegiatan

Hingga berakhirnya rangkaian kegiatan ziarah sekitar pukul 14.00 WITA, situasi di wilayah hukum Polsek Labuapi dilaporkan tetap aman dan terkendali. Kerja sama antara aparat kepolisian, tokoh masyarakat Sekarbela, dan pengelola desa setempat menjadi kunci suksesnya pengamanan tradisi tahunan ini. Masyarakat pun mengapresiasi kehadiran Polri yang membantu mengatur alur masuk dan keluar, sehingga perjalanan dari Kota Mataram menuju Kabupaten Lombok Barat berlangsung tanpa kendala berarti.

Keberhasilan pengamanan ini menunjukkan bahwa sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam merawat tradisi lokal dapat berjalan beriringan dengan standar keamanan modern. Polres Lombok Barat berkomitmen untuk terus mengawal setiap kegiatan masyarakat yang memiliki dampak terhadap keramaian publik demi terciptanya kondusivitas wilayah yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *